Search

Jumat, 22 Oktober 2010

Tulis Ceritamu Sendiri...Dengan Struktur Yang Dalam dan...dan...um...Serius! Yeah... (Bacaan Dewasa) XD

Di tulisan ini kita akan membicarakan:
  • Pemahaman Terbalik (Reverse) Terhadap Suatu Karya
  • ‘Tanah Kosong’ Untuk Karakter-Karaktermu
  • LIVE Structure Building

WARNING! Tulisan ini ditulis oleh amatir yang belum pernah punya buku yang diterbitkan apalagi termasyhur. Tapi percaya deh, kalau ini berhasil nyampe dengan baik dan dipahami, could work pretty nice. Tidak ada garansi. Pun tak ada rugi. Itulah motto perusahaan kami. Pabrik Mi Telor Tjap Ayam Keter.

Pemahaman Terbalik (Reverse)

Ingat saat kita mengamati suatu karya di pameran, atau dalam kasus ini, novel bagus di toko buku atau yang baru selesai kita baca? Dan perasaan menggebu untuk membuat satu yang seperti itu yang menyusul setelahnya? Bagi yang punya wangsit berkarya mungkin akan benar-benar berhasil membuatnya, tapi beberapa hal tidak berjalan begitu lancara bagi pemula-pemula seperti kita, dan biasanya berujung frustasi...dan pil penghilang rasa sakit...dan rokok...dan dosis kafein dari secangkir kopi.

Tapi tahukah kalian, kita mengamati sebuah karya (biasanya) sebagai satu kesatuan (yang mengagumkan). Di saat yang sama, sebenarnya kita juga merasakan kepuasan sebagai hasil dari kesetiaan pembuatnya terhadap setiap langkah kecil yang dibuatnya untuk membangun karya tersebut. Kita mengamati strukturnya, misalnya: struktur fisik dari sebuah karya bangun, struktur yang kita ingat dari buku yang baru kita baca. Dengan demikian, kita memahami karya itu secara terbalik dari apa yang dilakukan pembuatnya. Seperti menelusuri petunjuk ke suatu sumber.

Dan kita tidak bisa membuat karya dengan pemahaman seperti itu. Meskipun adalah penting untuk memperkaya pengetahuan dari hasil pengamatan itu, tapi untuk membuat karya baru, kita harus membuat sebuah ‘tanah kosong’ bagi karya kita sendiri. Kosong dan gelap dan tanpa batas untuk kita menempatkan karakter-karakter kita di dalamnya.

‘Tanah Kosong’ Untuk Karakter-Karaktermu

Kekosongan universe ini harus bisa memberi peluang seluas-luasnya bagi perkembangan karakter dan cerita menjadi selogis mungkin. Tanah kosong ini harus bebas dari pengaruh cerita yang baru kita baca atau novel lain yang kita kagumi. Disini kita hanya berbekal pengetahuan yang kita punya (dari banyak membaca dan sebagainya...sesuai adat dan ukuran celana masing-masing, halah!). Tanah kosong ini juga sangat berpengaruh untuk mengeluarkan ‘jurus-jurus tersembunyi’ dari alam bawah sadar kita yang bisa memperkaya cerita secara alami.

Aku sendiri tidak begitu mengerti konsep tema dan topik untuk menulis cerita fiksi. Karena tampaknya saat ini ada begitu banyak macam cerita yang unik dan tidak dibatasi struktur resmi yang diajarkan di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Meski pada dasarnya harus ada konflik (yang banyak) untuk membuat cerita yang menarik. Tapi jangan pikirkan soal itu. Itu seharusnya bagian dari kesenangan dalam menulis. Jangan berpikir bahwa pembaca harus mengetahui ‘daftar dari semua konflik’ itu, buat mereka berusaha mampu merangkumnya sendiri. Pretty cool, huh?
Dan yang terpenting, kita harus punya IDE CERITA dan karakter utama. Mulailah dengan satu atau sedikit saja karakter. Anggap ini sebagai proyek kecil tapi harus terselesaikan.

LIVE Structure Building

LIVE disini berarti seperti acara LIVE di TV. Tidak ada skrip, tidak direncanakan, hanya berpedoman pada ide cerita. Ini adalah bibit utama dari perkembangan cerita yang natural dan logis, bahkan jika ceritamu cerita fantasi di dunia antah barantah.

Ingat kembali benda seni di pameran. Karya itu memiliki struktur yang kita amati secara terbalik dari pembuatannya. Sekarang saatnya kita menjadi sang kreator yang membangun struktur kita sendiri dari nol. Struktur yang baru dan segar, bebas-pengaruh dari buku bagus yang kita kagumi, di Tanah Kosong yang gelap dan tanpa batas.

Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah mengobservasi. Lihat lebih dekat. Sekarang karakter kita berada di tanah kosong yang kita sediakan baginya untuk berkembang. Kemudian bayangkan strukturnya mulai terbangun. Buat cabang baru dari ‘ketiadaan’ itu, yang akan membuat dia terlibat pada kejadian, pertemuan dengan karakter baru ataupun detil-detil yang mengembangkan dan memperkaya cerita. Semua  itu akan terikat dalam logika dan aksi-reaksi yang terjadi secara alami seperti dalam kehidupan nyata.

Saat melakukan ini, kita akan lupa pada hal-hal yang biasanya akan mengurangi efisiensi pekerjaan kita, seperti memilih dan menghias kata-kata, karena biasanya kita berpikir bahwa harus terjadi hal besar stiap saat dalam cerita terhadap tokoh utama, dan kita jadi mengabaikan insting naluriahnya sebagai makhluk bernyawa. Pokoknya semuanya akan terjadi secara lebih alami. Yang kita lakukan hanyalah harus terus ‘melaporkan’ apa yang terjadi pada tokoh-tokoh kita, membuat  cabang-cabang baru dalam struktur secara naluriah.

Inilah mengapa disebut LIVE Structure Building. Karena kita melaporkannya secara langsung tanpa perencanaan dan membiarkan peristiwanya bergulir dengan sendirinya.

Pembangunan struktur ini akan mengarahkan tokoh kita pada tujuan cerita dengan sendirinya.

Kita biasanya tidak menggunakan struktur dan tanpa sadar membiarkan banyak cabang yang terputus tanpa sambungan karena kita terus mendapat ide baru untuk diungkapkan buru-buru sebelum lupa. Akhirnya saat draft-nya selesai, karya kita menjadi kurang kokoh sebagai satu kesatuan.

Ini sedikit contoh. Dari contoh ini kita akan mempelajari bahwa saya memang bukan penulis yang mumpuni. But I’ll beat that! YEAH!!

Contoh cerita: seorang hantu yang ingin menemui keluarganya, maka dia harus belajar menampakkan diri.

Dia sendirian, duduk di nisannya sendiri sambil melamun. “Aku ingin menemui keluargaku,” gumamnya. 

Sebuah tangan menggapai bahunya dari belakang. Dia terkejut dan menoleh. Si Tua Brokebands. Jenggot laki-laki tua itu bergerak saat ia tersenyum. Dia mengangkat alisnya dengan jenaka. Khas penampakannya, baik di dunia arwah maupun dunia manusia.

“Hidup bukan batu yang harus dipecahkan, Anak Muda.” Ujarnya.

“Uh...kita tidak hidup lagi, Tuan Brokebands.” Hantu muda itu berkata, mengangkat sebelah alisnya. Dia mengikuti saat pria tua itu melayang kedepan dan membentuk kaki dengan ekor hantunya, dan duduk di sebelahnya sambil mendongak.

“Dengan demikian, batunya akan lebih sulit di pecahkan,” katanya sambil menoleh, menatap lurus ke wajah hantu muda.

Hantu muda itu menggeleng sambil tertawa pahit. “Aku tahu itu, Pak Tua. Sulit menjalani apa yang tidak kita pahami, dan kita masih punya keinginan yang belum terpenuhi. Begitukah cara kerjanya disini? Begitu menyesatkan?”

Pak Tua itu berpaling. “Terserah kau saja. Aku tidak mau tahu urusanmu.”

“Eeh...aku kira Anda mau membantuku...”

Si Tua Brokebands menoleh lagi pada hantu muda yang tampak gundah itu. “Jadi, apa rencanamu?”

Hantu muda itu menjawab, “Aku belum menguasai teknik menampakkan diri. Aku ingin menampakkan diri di depan ibuku dan keluargaku. Untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja disini. Tapi...sulit sekali. Apa yang kulewatkan? Aku tidak pernah melakukannya dengan benar.”

Si Tua Brokebands menggeser posisinya lebih lurus ke arah hantu muda itu. “Aku bisa mengajarimu.” Alisnya terangkat lagi.

Hantu muda menoleh, dia tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi dan gusi yang sama putihnya. Dia berkata keras-keras, “Terimakasih, Tuan Brokebands. A..aku mau sekali diajari olehmu... Terimakasih!”

Dia memeluk hantu tua itu dan membenamkan kepalanya di depan dada jubah mandinya (Brokebands meninggal karena serangan jantung setelah mandi herbal di bathtub di mansion mewahnya, makanya, salah satu ciri khas  kemunculannya adalah semerbak aroma rosemary dan rempah-rempah).

“Auw! Tulang-tulang hantuku...!” Pak Tua itu memekik.

Artikel ini memang tidaklah sempurna, tapi kuharap bisa sampai dengan baik di benak teman-teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

:: Tinggalkanlah komentar anda demi kemajuan kami sendiri ::